Monday, November 10, 2008

Tidak Berjudul

Ketika baru duduk di bangku SMA, kami adalah sekelompok orang-orang idealis, yang punya mimpi, dan percaya bahwa kami punya kekuatan untuk merubah dunia. Kami mengisi otak kosong kami dengan doktrin-doktrin, dan (berusaha) menjaga agar idealisme kami tidak terkuras habis.

Ketika sudah setahun berlalu, kami mulai berulah. Kami (hampir)melupakan mimpi kami. Kami bersenang-senang, tertawa dan menangis secara bersamaan. Kami memang pernah menjadi makhluk idealis yang punya mimpi-mimpi yang siap tinggal landas. Namun, kami lupa daratan. Kami malahan asyik bermain dan lupa waktu. Malahan, di satu sisi, kami mulai termakan doktrin-doktrin yang kami konsumsi setiap hari.

2 tahun berlalu sudah. Kami (benar-benar) lupa akan mimpi kami 2 tahun lalu. Kami bukanlah orang-orang idealis seperti dulu lagi, kami adalah kelompok realistis, yang berusaha bertahan dengan tuntutan jaman. Kami berlari, mengejar apa yang dituntut masyarakat, bukan apa yang dituntut makhluk idealis dalam diri kami. Kami tertegun, dan bingung di tempat. "Kemanakah aku harus melangkah?" itulah bisik kami dalam hati. "Haruskah aku mengejar idealisme dalam diriku atau mengejar apa yang dituntut oleh realita?"

Kami masih duduk di tengah persimpangan jalan itu. Belum berani memutuskan. Takut melangkah, itulah dalih kami setiap waktu. Kami enggan menderita demi idealisme kami, kami memilih menuruti sesuatu yang realistis. Rupanya, kami tidaklah seberani dulu, ketika kami baru duduk di bangku SMA., ketika otak kami masih kosong...