Monday, November 17, 2008

Persimpangan Jalan

Kali ini ia tersungkur
sayapnya telah patah
cairan merah kental mengotori setiap helainya

Ia berteriak lirih
tapi
tak ada orang yang mau menolongnya

Ia menatap ke depan
asap putih tebal menutupi seluruh jalannya
gelap dan dingin
sehingga ia ragu

Ia menatap ke belakang
penuh dengan hingar-bingar, cahaya,
kehangatan perlahan menyelimuti kakinya
namun ia tahu
ia tak boleh kembali

Hingga kini
ia masih terpuruk di tengah
dengan sayapnya yang patah
dengan luka tak terobati

tetapi
Ia menolak untuk kembali
Ia bertahan di posisinya
walau nyawa taruhannya